You Are Here: Home » Trips » 111 Days Traveling Around 3 Big Islands In Indonesia #NekadTraveler

111 Days Traveling Around 3 Big Islands In Indonesia #NekadTraveler


#NekadTraveler 111 Days Traveling, 3 Big Islands, 14+ Cities, 10.000+ Miles, 100+ Friends  and Tons of Experiences

Map of Indonesia

Map of Indonesia

Tulisan ini akan berkisah tentang petualangan gokil, nekad, seru, unik, dan juga tak terlupakan saya ketika mengunjungi beberapa kota di 3 Pulau Besar di Indonesia selama 111 hari! Sebenarnya mau nulis sejak dari perjalanan balik, namun baru kesampaian akhir bulan Agustus ini!

Dengan bermodal sebuah backpack, kamera, dan uang secukupnya saya bisa survive selama 111 hari melalui jalur persahabatan dan komunitas. Niat awal hanya ingin Traveling seminggu, karena keterbatasan dana, saya hanya membeli tiket One Way aja. Nah, kebetulan AirAsia ada promo bulan Desember untuk penerbangan Maret 2013, jadilah saya beli tiket untuk penerbangan 5 Maret 2013 menuju Medan via Bandung. Kenapa Medan? Karena saya penasaran dengan Danau Toba dan kebudayaan masyarakat sana yang katanya hampir mirip dengan kebudayaan suku saya, Toraja. Kebetulan saya sangat suka dengan musik Batak, penikmat tarian Tor – Tor dan juga pengoleksi alat musik Tradisional Batak.

Setelah membeli tiket seharga IDR.339.000, saya mulai mengumpulkan duit untuk persiapan Traveling pada bulan Maret 2013 dan mengumpulkan informasi lokasi yang akan saya kunjungi selama seminggu di Medan. Hingga hari keberangkatan, dana persiapan penjelajahan Sumatera Utara terkumpul sekitar IDR. 1.200.000. Dana sebanyak itu lebih dari cukup buat saya untuk bisa survive selama seminggu, tapi belum termasuk tiket pulang! Ha ha ha . . . Niat lanjut ke Aceh soalnya. Cukup yah kata pembukanya, masuk ke intinya yah, soalnya petualangan 111 hari ditulis dalam satu  blog post membutuhkan banyak space. Yuk, Lanjoooooooooooooooooot!

The Journey Starts!

2 Maret

Sore hari pada tanggal 2 Maret saya meninggalkan Kota Malang (Kota tempat kuliah saya) menggunakan kereta Malabar tujuan akhir Bandung. Saat itu, saya berada di kelas Bisnis, soalnya tiket untuk kelas Ekonomi habis dan ga’ sanggup beli tiket kelas Eksekutif (Kasian dana Travelingnya). Lumayan dapat IDR.100.000 untuk one way Train Ticket.

Keesokan pagi harinya, saya tiba di Bandung dan dijemput ama Teh Mega sekalian numpang di kostnya selama 2 hari,  menghemat biaya penginapan he he he . . . Selama dua hari, saya diajak keliling kota Bandung dan sekitarnya juga. Anyway, Bandung merupakan Kota yang lumayan familiar bagi saya, soalnya pernah stay di Bandung selama 3 bulan akhir 2009. Oh iya lupa, sebelumnya saya pernah ketemuan ama Teh Mega sekitar bulan Oktober 2012 di Gunung Semeru. Teman sependakian menuju Puncak Mahameru! Teman baru dari sebuah petualangan!

Mega Maharani

Tim Semeru Oktober 2012. Teh Mega, Ketiga Dari Kiri

SUMATERA UTARA

Medan! I’m coming

5 Maret

Pukul 20.00 WIB saya berangkat menuju Kota Medan via Bandara Husein Sastranegara Bandung dan tiba di Bandara Polonia Medan sekitar pukul 22.15 WIB. Sekarang, kalau ke Medan bakal ga’ landing di Polonia lagi, soalnya seluruh penerbangan Domestik maupun Internasional sudah pindah ke Bandara Kualanamo! Bandara baru yang katanya paling modern dan menggunakan teknologi paling canggih di Indonesia.

Malam itu saya dijemput ama 2 orang kawan yang sebelumnya sudah kenal dari forum Backpacker Medan di Facebook, namanya Bang Raymon dan Roy Sirait. Malamnya nginap di Markas Backpacker Medan, nah kebetulan malam itu lagi rame karena ada acara nonton bareng perempat final Liga Champions Eropa Manchester United Vs Real Madrid! Jadilah malam itu saya tidak tidur hingga dini hari ngobrol bareng Bang Raymon, Maradonna, Roy, Geewan, Gembul, Reza, dan Jo. Sayangnya tim kesayangan saya, Mancester kalah pagi itu di markas sendiri Old Trafford, kena deh saya jadi bahan candaan kawan – kawan Medan.

“Bang, tiket penerbangan pertama menuju Bandung masih ada kok jam 6 pagi”, canda teman BPM (Backpacker Medan) karena kekalahan tim Favorite saya he he he . . .

I still I have few more hours to sleep karena jam 8 pagi harus mengejar bus pagi menuju Parapat, sebuah kota di pinggiran Danau Toba. Hari itu saya menuju Pulau Samosir bersama dengan Jen dan Lily, kenalnya baru di Terminal (udah janjian malam harinya via phone) atas rekomendasi Kak Irna dari komunitas Couchsurfing Medan, sebenarnya saya pun belum pernah bertemu dengan Kak Irna ha ha ha, kenalnya via Group Couchsurfing Medan di Facebook. “Belum ke Medan aja udah dapat banyak kawan, gimana kalau lama – lama di Medan”, pikirku. Jalur pertemanan melalui komunitas traveler!

Danau Toba

View Danau Toba Dari Carolina Hotel

DANAU TOBA, PULAU SAMOSIR, DAN SIPISO – PISO

Perjalanan menuju Danau Toba menempuh 4 jam perjalanan via bus dan tiba di Pelabuhan Tiga Raja, Kota Parapat. Dari pelabuhan Tiga Raja menuju Pulau Samosir menempuh perjalanan sekitar 30 menit melewati Danau Toba menggunakan perahu yang rutin berangkat setiap 30 menit dari jam 8 pagi hingga 5 sore. Tiba di Samosir sekitar pukul 2 siang, check-in di Hotel Carolina di Tuk – tuk, recommended banget, lokasinya  tepat di pinggir Danau Toba, dan yang paling penting low budget! Dengan harga IDR. 70.000 + ekstra Bed IDR.50.000 udah bisa nginap semalam apalagi cost-sharing buat 3 orang! Sore itu, kami bertiga menyewa sepeda dan mengunjungi Makam Raja Sidarbutar dan Museum Batak di Kota Tomok, sekitar 15 menit mengayuh sepeda dari Tuk – Tuk. Keesokan harinya nyewa 2 motor menyusuri pinggiran Danau Toba yang cantik untuk mengunjungi Huta Siallagan di Ambarita yang berjarak 3 km dari Tuk – Tuk, di lokasi ini terdapat banyak sejarah tentang Suku Batak, bisa mendengarkan kisah asal muasal Suku Batak dari penghuni Jabu Bolon warga sekitar, di lokasi tersebut juga terdapat kursi dan meja batu yang konon katanya digunakan untuk persidangan dan eksekusi hukuman, bukti kalau masyarakat Batak khususnya Marga Siallagan sudah mengenal hukum sejak lama.

Jabu Bolon Di Huta Bolon Simanindo

Jabu Bolon Di Huta Bolon Simanindo

Sekitar 10 km dari Huta Siallagan kami pun menuju Museum Huta Bolon Simanindo, di tempat ini berderet Rumah Adat Batak Toba atau masyarakat sekitar menyebutnya Jabu Bolon. Masih di dalam kompleks museum, terdapat pula beberapa perabot, alat kesenian, pakaian adat, alat perang, dan juga aksara asli Suku Batak. Di tempat ini pula, pengunjung bisa menikmati musik Tor – Tor yang dimainkan oleh musisi tradisional menggunakan Taganing (Alat tabuh Suku Batak), Sulim (Seruling khas Batak Toba, nah yang ini aku punya he he he) dan Hasapi (alat petik dua senar) mengiringi tarian penari Tor – Tor yang menggunakan pakaian adat lengkap yang disertai kain Ulos, lengkap sudah! Epik banget!

Carolina

Nah, Yang Di Belakang Saya Itu Namanya Alat Tabuh Taganing

Suku Batak merupakan etnis Indonesia yang memiliki ciri tersendiri. Bahkan konon bisa dianggap sebagai suku bangsa yang spesifik di dunia karena memiliki daerah asal – usul yang jelas, bahasa dan aksara, struktur kekerabatan, adat-istiadat dan hukum serta pola kehidupan sosial bahkan agama tersendiri.

Patung Dewi

Patung Dewi Kwan Im Di Siantar

Jam 5 sore kami meninggalkan Tuk – Tuk hendak menuju Kabanjahe, namun karena kemalaman akhirnya nginap di sebuah penginapan di Pematang Siantar. Keesokan paginya kami mengunjungi Patung Dewi Kwan Im, tinggi patungnya mencapai 22.8 meter dan pernah menjadi yang tertinggi di Asia Tenggara.

Setelah mampir di Patung Dewi Kwan Im di Siantar, kami melanjutkan perjalanan menuju Kabanjahe dan Mampir di Air Terjun Sipiso – Piso yang berlokasi di Desa Tongging. Tinggi air terjun ini mencapai 120 meter, berada di ketinggian 800 meter diatas permukaan laut, dan bentuk air terjunnya bagaikan hujaman pisau, oleh karena itu dinamakan Sipiso – Piso yang berarti Pisau.

Sesampainya di Kota Medan, kami pun berpisah dengan Lily, karena mengejar jadwal Bus malam menuju Aceh bersama dengan Kak Irna dan kawan – kawan Couchsurfing dari Medan dan Pekanbaru.

Air Terjun Sipiso - Piso

Air Terjun Sipiso – Piso

Santika Hotel

Social Media Festival Di Santika Hotel Setelah Tiba Dari Kabanjahe Bareng Backpacker Medan

 

BUKIT LAWANG DAN TANGKAHAN
Malam itu saya istirahat di Markas Backpacker Medan dan melanjutkan petualangan ke Bukit Lawang keesokan harinya. Bukit Lawang terletak di Kabupaten Langkat yang berjarak sekitar 2 jam perjalanan dari Kota Medan. Bukit Lawang masih masuk dalam kawasan Taman Nasional Gunung Leuser. Nah tujuan saya ke Bukit Lawang adalah untuk melihat Orang Utan di habitat aslinya yang hanya ada di Sumatera Utara dan Kalimantan Tengah (Tanjung Puting). Setelah trekking selama 2 jam ditemani seorang ranger menyusuri hutan Gunung Leuser, finally I found Orang Utan with her child! Funny and cute! Saat perjalanan balik, kehujanan pula di tengah hutan! Basah kuyup dah, untungnya daypack terlindungi dengan bag cover dan isinya saya bungkus dengan kantong plastik, jadi aman dah kameranya dan peralatan lainnya he he he . . .

Orang Utan

Cute Orang Utan In Bukit Lawang

Karena hanya menggunakan transportasi umum saya akhirnya memutuskan untuk balik ke Kota Medan dan stay semalam di Markas Backpacker Medan sebelum melanjutkan perjalanan menuju Tangkahan. Sebenarnya, jarak dari Bukit Lawang menuju Tangkahan hanya 1.5 jam, namun transportasi satu – satunya menuju Tangkahan hanya hingga jam 9 pagi, sementara hari itu udah sore, jadi balik ke Medan dulu sembari ngumpulin tenaga buat besok.

Tangkahan merupakan sebuah kawasan Eco – Tourism. Tangkahan pun sama dengan Bukit Lawang, merupakan bagian dari Taman Nasional Gunung Leuser. Sangat minim informasi tentang lokasi ini, bahkan traveler lokal pun jarang yang tau. Nah dalam perjalanan ke lokasi ini, saya sempat nyasar ke Sawit Seberang, masih berjarak 1.5 jam ke Tangkahan. Untungnya saya mendapat tumpangan warga sana yang kebetulan melalui jalur utama Bus (Hitchhiking). Nah, menunggu beberapa menit, bus terakhir tujuan Titi Mangga akhirnya datang. Kondisi jalan bukanlah aspal, namun hanya tanah berlapis kerikil, pemandangan kiri kanan pun hanyalah hamparan Kebun Kelapa Sawit!  Setelah 45 menit, bus berhenti di Titi Mangga. Sebuah lokasi yang bukanlah sebuah terminal melainkan ujung sebuah jalan dengan 2 buah jembatan sebagai penghubung jalan. Dari situ saya melanjutkan perjalanan menuju Tangkahan menggunakan Ojek dengan ongkos IDR. 40.000 untuk sekali jalan. Murah? Iya! Worthed? Not really, karena saya kasian dengan yang punya motor, jalannya lebih hancur dari sebelumnya! Motornya bisa ganti oli tuh untuk 2 kali jalan! Dari Titi Mangga menuju Tangkahan ditempuh selama 30 menit dengan kondisi jalan yang hanya kerikil! Sepanjang jalan hanya Kebun Kelapa Sawit dan hanya terdapat 3 pumikaman dengan jarak 2 km!

Finally setelah 30 menit trailing dengan motor yang sudah di modif untuk kondisi jalan berbatu, saya pun tiba di Tangkahan. Tangkahan merupakan salah satu lokasi yang tidak ditanami Kelapa Sawit dan kondisi alamnya masih alami, sangat kontras! Karena yang membatasi hanya sebuah aliran sungai. Tangkahan merupakan lokasi yang tidak umum bagi Traveler Indonesia, mungkin karena akses yang sangat kurang dan sangat minim informasi. Benar saja, sesampainya disana hanya saya yang merupakan Traveler Lokal, pengunjung yang lain adalah Wisatawan Mancanegara!

Gajah Di Tangkahan

Tangkahan Eco-Tourism

Akomodasi di Tangkahan tergolong lumayan, karena terdapat banyak cottage dan lodge dengan harga yang sangat murah. Saya memilih untuk menginap di Mega Inn, karena ada dormitory berisi 5 tempat tidur dengan harga IDR.30.000/bed/hari. Aktivitas yang bisa dilakukan di Tangkahan sangat banyak diantaranya, river tubbing, trekking hutan, caving, memandikan gajah, dan relaxasing. Kebanyakan wisatawan Mancanegara mengunjungi Sumatera Utara menjadikan Bukit Lawang dan Tangkahan sebagai tujuan wisata inti selain Danau Toba. Mereka biasanya stay hingga seminggu. Tangkahan menjadi lokasi favorit saya disamping Danau Toba. Karena tujuan saya hanya ingin meihat Gajah Sumatera disamping mengirit biaya, jadinya aktifitas yang saya lakukan hanyalah memandikan gajah. I wish akan kembali ke Tangkahan dilain kesempatan.

Bertemu dengan seorang kawan bernama Titin mewujudkan impian saya, selang 2 minggu semenjak kunjungan pertama saya, saya akhirnya kembali ke Tangkahan!

Air Terjun Tangkahan

Air Terjun Tangkahan

Kunjungan kedua ini kali ini saya ditemani Titin yang kebetulan belum pernah ke Tangkahan dan seorang Guide dari Raw Wild Life Encounter yang kebetulan warga asli Tangkahan bernama Darwin. Nah kunjungan kali ini saya mendapat kesempatan yang lebih banyak untuk eksplorasi Tangkahan, biaya? Hampir Gratis! Dengan hanya IDR. 75.000 saya bisa menikmati Jungle Trekking, Caving, River Tubbing dan Mandiin Gajah! Aslinya bisa sampai Jutaan loh! Bagaimana dengan akomodasi penginapan? Gratis donk! Nah, kok bisa gratis? Gini gini, Bang Darwin diminatin tolong oleh owner Raw Wild Life Encounter untuk membuat design itinerary berbahasa Indonesia, nah Titin temanan ama Bang Darwin, diajak lah saya, sekalian bantuin mereka publikasi sosial media dan membuat design itinerary Tangkahan (Lumayan ada keahlian desain dikit).

Trekking Tangkahan

Jungle Trekking Di Hutan Gunung Leuser

Kegiatan yang paling saya gemari di kunjungan kedua ini adalah Jungle Trekking! Why? Karena memacu adrenalin, butuh waktu sekitar 3 jam menyusuri hutan hujan kawasan Taman Nasional Gunung Leuser sebelum sampai ke mulut gua. Dalam perjalanan ke mulut gua, medan yang kami hadapi adalah hutan basah, rimbun dan ada Pacet sepanjang perjalanan! Dalam perjalanan ke mulut gua, kami pun sempat menemukan Patok yang dibuat oleh Kopassus ketika melakukan Ekspedisi Bukit Barisan 3 tahun lalu.

Bareng bang Darwin

Bareng Bang Darwin, Pemuda Asli Tangkahan dan Sekaligus Menjadi Guide Di Raw Wild Life Encounter

Setelah 3 jam trekking, finally kami tiba di mulut gua dan kami pun melakukan caving selama 45 menit menyusuri gua yang dipenuhi Kelelawar dan Burung Walet. Setelah itu kami menyebrangi sungai dengan berenang melawan arus keseberang dan melakukan River Tubbing mengikuti arus menuju lokasi permandian Gajah selama 30 menit, setelah itu River Tubbing lagi ke lokasi penginapan di Mega Inn selama 15 menit! Melelahkan namun mengasyikkan! Oh iya, pemandangan alam di sekitar sungai saat River Tubbing sangat luar biasa karena pemandangan di sebelah kiri dan kanan adalah hutan dan batuan Karst!

Tangkahan

Bareng Titin Setelah Jungle Trekking 3 Jam dan Caving 45 Menit. Habis Ini Bakal River Tubbing

 

IT’S NOT ABOUT THE DESTINATION BUT THE JOURNEY

Sebenarnya petualangan saya bersama Titin ke Tangkahan adalah yang kedua kalinya, sebelumnya kami sudah mengunjungi rumah adat Batak Karo di Desa Lingga, menikmati kuliner di Brastagi, dan Hitchhiking menuju kaki gunung Sinabung di Lau Kawar seminggu yang lalu.

Taman Lumbini

Taman Lumbini Di Brastagi

Cerita yang seru adalah ketika mengunjungi Rumah Adat Batak Karo di Desa Lingga. Saat itu kami buta informasi dari Medan dan untuk menuju desa itu kami bertanya dengan warga sekitar. Pribahasa “Malu bertanya sesat diajalan” ternyata ampuh. Kami pun bertanya sana – sini hingga menemukan jalan menuju Desa. Di Desa Lingga terdapat Rumah Adat Batak Karo yang saat ini hanya tersisa 2 rumah dengan kondisi layak dan masih dihuni oleh keluarga keturunan. Sebenarnya rumah ini ada 8 buah, namun 6 lainnya sudah hancur termakan usia dan tidak terawat. Wajar saja, umur rumah mencapai ratusan tahun dan dibangun pada awal abad ke – 18!

Rumah Karo

Rumah Adata Batak Karo Di Desa Lingga

Beberapa penginggalan masyarakat Batak Karo juga terdapat di sekitar rumah adat. Diantaranya adalah kalender Batak Karo, suling khas Batak Karo yang konon katanya digunakan oleh pemuda dahulu kala untuk merayu gadis untuk melihatnya dari balik jendela rumah, tempat obat tradisional, dan tempat bawang yang dipercaya untuk menolak bala.

Perabot Tradisional Karo

Perabot Tradisional Batak Karo

Batak Karo adalah salah satu dari 6 sub-suku Batak. Diantaranya adalah Batak Toba, Batak Karo, Batak Pakpak, Batak Simalungun, Batak Angkola, dan Batak Mandailing. Secara budaya banyak kesamaan. Namun, terdapat banyak perbedaan dari penamaan Marga/Boru, bahasa, aksara, dan adat. Contoh yang paling mencolok adalah Marga dan Rumah Adat. Di sekitar pulau Samosir terdapat rumah adat Batak Toba sedangkan di wilayah kaki Gunung Sinabung banyak terdapat Rumah Adat Batak Karo. Secara marga pun berbeda, contoh Marga Batak Toba adalah Sirait, Simbolon, dan Situmorang, sedangkan Batak Karo seperti Tarigan, Sembiring, dan Sibero. Dari segi Gorga pun berbeda di antara masing – masing sub-suku Batak. Gorga merupakan seni ukir ataupun pahat yang biasanya terdapat pada bagian luar (eksterior) rumah adat Batak Toba dan alat kesenian (gendang, serunai, kecapi), dan lain sebagainya.

PUSUK BUHIT

Pusuk Buhit merupakan nama gunung yang terdapat disekitar Desa Sianjur Mula – Mula yang berjarak sekitar satu jam dari Tuk – Tuk, Pulau Samosir. Loh? Kapan kesana? Nah, saya kembali ke Pulau Samosir bersama Titin dengan tujuan Pusuk Buhit. Kata kawan – kawan yang pernah ke Pusuk Buhit, tuh tempat paling top untuk melihat Danau Toba! Namun banyak cerita dibalik Pusuk Buhit yang mengurungkan niat para traveler bahkan warga Pulau Samosir sekalipun untuk mengunjungi Gunung tersebut. Banyak alasan, mulai dari kurangnya informasi hingga karena kemistisannya. Setelah browsing dan bertanya ke beberapa kawan di Medan, finally I got many informations how to get there and things to do and don’t.

Pusuk Buhit dipercaya oleh Suku Batak sebagai tempat asal mula turunnya Raja Batak, terbentuk akibat letusan Danau Toba berabad lalu, dan merupakan puncak tertinggi di sekitar pinggiran Danau Toba.

Saya dan Titin memutuskan untuk trekking ke Puncak Pusuk Buhit berdua, soalnya tidak ada yang berminat kesana dengan berbagai alasan, “Takut, terlalu dini untuk kesana, kurang rame, bahkan karena bukan destinasi terkenal”.

Okey, kami berdua menuju ke Pulau Samosir dan dan menginap di Tuk – Tuk. Kami berangkat sore dari Medan dan tiba malam di Parapat, praktis kami harus nginap di Parapat karena tidak ada perahu yang menyebrang ke Pulau Samosir malam setelah jam 5 sore. Lucky us, Bang Roy yang kebetulan kawan Backpacker Medan asli Parapat lagi mudik, kami numpang nginap di rumahnya semalam dan akan berangkat ke Pulau Samosir keesokan paginya.

Keesokan harinya kami berangkat ke Tuk – Tuk dan kemudian mempersiapkan peralatan pendakian dan beberapa logistik. Menuju ke Pusuk Buhit kami hanya bermodalkan informasi tempat tersebut berada di dekat Kota Pangururan yang berjarak 1 jam menggunakan motor. Kami berangkat dalam kondisi cuaca yang kurang bersahabat, hujan lebat yang mengharuskan kami mencari tempat berteduh hampir 3 kali. Finally ketika sampai di Pangururan kami pun bertanya lokasi Pusuk Buhit itu dimana? And Yes! We got informations from the local how to get there! Kami langsung bergegas ke Desa Sianjur Mula – Mula yang berjarak 45 menit dari Pangururan. Namun sayangnya ketika akan hendak memulai trekking, cuaca kembali mendung dan hari udah sore, kami putuskan akan kembali besok.

Karena Gagal Menuju Pusuk Buhit Pada Hari Pertama, Akhirnya Mutar Haluan Ke Menara Tele

Karena Gagal Menuju Pusuk Buhit Pada Hari Pertama, Akhirnya Mutar Haluan Ke Menara Tele

Oh iya, kami tidak langsung balik ke Tuk – Tuk hari itu, kami memutuskan untuk memutar arah untuk mengunjungi Tele. Menyusuri jalan menanjak selama 30 menit kami pun mencapai Tele. Dari menara Tele, kita bisa melihat pemandangan Danau Toba dan Puncak Pusuk Buhit dari ketinggian. Sepanjang jalan pun dipenuhi dengan hamparan sawah, tebing dan perbukitan yang sangat Indah.

Keesokan harinya kami berangkat agak pagi dengan harapan bisa melakukan trekking dalam kondisi cuaca yang cerah. Hari itu kondisi cuaca pun seperti harapan kami, cerah! Kami melakukan trekking selama kurang lebih 3 jam untuk mencapai puncak, di 1/3 perjalan kami mampir untuk beristirahat dan bertemu dengan kakak – kakak yang baru saja menuruni Pusuk Buhit, kamipun disuguhin hidangan santapan siang sebelum melanjutkan perjalanan sembari bercerita dan diberi nasehat. Mereka berjumlah 4 orang dewasa dan 2 anak kecil. Mereka pada awalnya tidak saling mengenal namun karena kebetulan mereka bermarga Pasaribu, keakraban mereka bagaikan sudah kenal sejak lama. Dari situlah mereka banyak bercerita tentang silsilah Suku Batak dan lain sebagainya kepada kami secara bergantian. Tidak lupa mereka juga memberi nasehat yang sebenarnya bagi sebagian orang bakal takut mendengarnya dan pasti akan tidak berniat mengunjungi Pusuk Buhit, pokoknya mistis!

“Saya ke Pusuk Buhit mau mencari keindahan dan menikmati perjalanan, semoga dilancarkan”, Doaku dalam hati, akhirnya setelah sekitar satu jam ngobrol dan bercerita, kami minta izin untuk melanjutkan pendakian.

Sepanjang perjalanan kami berpapasan dengan beberapa warga yang baru saja menuruni Pusuk Buhit. Mereka membantu menunjukkan jalan pintas untuk memperpendek jarak tempuh. Setelah perjalanan 2.5 jam, akhirnya kami sampai di Puncak! Indah banget dan menurut kami, the best view to see Toba Lake is from Pusuk Buhit! Well, bisa dibandingkan dengan beberapa foto yang saya publish di post ini. Sepanjang perjalanan menuju puncak pun tak kalah bagusnya. Trekkingnya capek donk, tapi terbayarkan dengan pemandangan yang luar biasa cantik dan pengalaman yang tak terlupakan mulai dari pencarian informasi hingga berdiri di Puncak!

Puncak Pusuk Buhit

Puncak Pusuk Buhit

Pusuk

View Danau Toba Dari Puncak Pusuk Buhit

Pusuk Buhit bagi masyarakat Batak adalah gunung suci dan mereka biasanya berkelompok untuk mengunjungi tempat tersebut. Tujuan mereka adalah berdoa. Di puncak terdapat 7 buah cawan untuk persembahan dan doa, kami pun ketika berada di puncak bertemu dengan beberapa orang yang sedang melakukan prosesi doa, salah satu dari mereka kesurupan! Perjalanan turun pun kami bertemu dengan kelompok keluarga yang baru akan melakukan doa di puncak, mereka bertanya,

“Kalian dari mana?”“Kami dari Puncak Opung”, jawab kami. “Aslinya emang dari mana?”, tanya salah seorang dari mereka lagi, “Dari Sulawesi”, jawabku. Kemudian mereka serentak berkata, “Berani kali kalian yah”, dengan raut muka heran. Kami pun hanya tersenyum dan pamit turun.

Pusuk Buhit

View Danau Toba Saat Perjalanan Menuruni Pusuk Buhit

Wajar saja mereka berkata demikian karena sewaktu kami mampir di warung untuk istirahat, kami sempat bercakap dengan warga sekitar. Mereka pun bertanya dengan pertanyaan yang hampir sama, namun kali ini mereka memberikan sedikit penjelasan kenapa mereka sekali pun tidak berani untuk kesana sendirian, hal tersebut disebabkan karena gunung itu adalah gunung yang sangat suci bagi mereka yang masih menganut kepercayaan Parmalim.

Desa Sianjur Mula - Mula

Desa Sianjur Mula – Mula

Bagi kami, lokasi tidaklah penting, populer atau tidak. Tapi yang terpenting, kami menikmati perjalanan, bertemu dengan orang banyak, bertukar cerita, dan menghargai kebudayaan dan kepercayaan mereka. Saya dan Titin pun berbeda kepercayaan, namun perjalanan tetap lancar, aman, damai, dan pastinya seru!

TRAVELING WITH BACKPACKER MEDAN COMMUNITY

Awalnya hanya seminggu di Medan, cuma keterusan karena bujuk rayu dari kawan – kawan Backpacker Medan untuk stay lebih lama di Medan. Kebetulan akhir maret mereka ada agenda tahunan untuk big trip. Tahun ini kebetulan mereka hendak ke Pulau Mursala di daerah Tapanuli Tengah. So, I choose to stay longer. Dana masih cukup untuk sebulan kedepan. Kebetulan saya diminta tolong unutk bantuin persiapan trip, jadi ama trip leadernya cuma dikenain biaya ½ dari total harga IDR.400.000, lumayan dapat potongan.

BPM

Backpacker Medan Di Halaman Markas

Prinsip trip kebanyakan komunitas Backpacker adalah sharing cost. Nah biaya yang mereka gunakan adalah untuk memenuhi kebutuhan kawan – kawan selama trip, mempersiapkan akomodasi, dan tentunya extra fee bagi mereka yang menjadi panitia trip untuk mempersiapkan segala sesuatu sebelum keberangkatan, mulai dari akomodasi, komunikasi, dan transportasi

Mursala Island

Welcome To Mursala Island

Untuk menuju Pulau Mursala kami menggunakan Bus ¾ dan menempuh perjalanan sekitar 10 jam! Kami berangkat dari Medan malam hari dan tiba di Kota Sibolga keesokan paginya. Perjalanan dilanjutkan menuju Pulau Putri menggunakan perahu nelayan selama 3 jam. Kami stay satu malam di Pulau Putri. Hari itu sesi perkenalan dengan kawan baru, BBQ-an, dan tentunya berenang! Keesokan harinya kami mengunjungi Air Terjun Pulau Mursala yang sangat terkenal, berjarak satu jam perjalanan menggunakan perahu. Air Terjun Pulau Mursala sangatlah unik dan berbeda dengan yang lainnya, hal tersebut dikarenakan lokasinya di sebuah pulau kecil, tingginya sekitar 40 meter, air terjunnya langsung jatuh ke laut, dan debitnya sangat besar!

Putri Island

Pulau Putri Yang Berhadapan Dengan Pulau Mursala

Mursala Waterfall

Air Terjun Pulau Mursala

Mursala

My Pic Di Depan Air Terjun Pulau Mursala

Nah, pas upload foto ini ada teman yang comment di Facebook saya, “Baju nya udah berapa lama tuh?”, nah saya jawab, “Baju ini yang akan saya wariskan ke anak cucu” Selembar baju yang udah berkelana ke pelosok Nusantara dan mancanegara :)

ANOTHER STORIES IN MEDAN

Di lain kesempatan saya pun sempat mengunjungi Sidebuk – debuk yang berlokasi di kaki Gunung Sibayak, Taman Alam Lumbini, nonton bareng film Mursala di bioskop, city tour ke Masjid Raya, Istana Maimoon, Rumah Tjong A Fie, dan nongkrong bareng di Lapangan Merdeka bersama kawan – kawan Backpacker Medan.

Saya pun mencicipi makanan favorit saya di Medan, Mie Aceh. Kata bang Raymon sih, Mie Aceh di Medan lebih enak dibandingkan di Aceh. Then, bareng bang Gee Wan berkunjung ke tempat Kak Septi di Tebing Tinggi dan stay semalam. Oh iya 4 hari di Medan, kacamata saya ketinggalan di Bus saat perjalanan balik. Nah, ketika ke tempat Kak Septi, saya diberi frame kacamata Tag Heuer. Jadi saya hanya tinggal mengganti lensanya. Oh iya, mata saya minus 2.5 kiri kanan + silinder 1 ¼, jadi kebayang kan kalau ga’ pake  kacamata  He He He . . .

Bareng Titin menikmati kuliner di Pagaruyung (Little India Medan), karaoke bertiga ama Titin dan Sisi ampe teriak – teriak, berkenalan dengan teman sekantor Titin dan sedikit belajar tentang saham IHSG, berkunjung ke Cuckoo Latte (Cafe Mira teman sekantor Titin), menikmati hidangan Coto Makassar Bunda di Medan dan bertemu dengan ownernya yang sudah menetap di Medan sejak 9 tahun yang lalu (Nah kalau yang ini nemunya karena si Andika yang ketemunya pas Trip Mursala itu ternyata pacarnya anak yang punya warung makan Coto Makassar Bunda, dia juga kebetulan wartawan majalah Kover Magz Medan)

Kover Magazine

Review Saya Tentang Bukit Lawang Di Cover Magz Medan. Thanks Andhika!

Oh iya, di Medan saya pertama kali mencicipi yang namanya Jus markisa + terong belanda. Rasanya top banget dah! Thanks Titin yang udah maksa saya minum jus itu! Ha Ha Ha . . .

Selama di Medan saya bisa survive karena numpang di rumah Bang Gee Wan yang juga dijadiin markas Backpacker Medan, selain itu karena dana yang saya bawa hanya 1.2 juta, saya survive dengan jualan Polo Shirt Java Programmer di Facebook Forum ( kebetulan saya adminnya), jualan Jasa design, dan tentunya jualan Postcard dari hasil jepretan saya. Bisa ditengok disini.

Sepanjang perjalanan di Sumatera Utara, saya sangat sering mendengarkan musik Tor – Tor dan Indonesia Raya. Hal tersebut mengingatkan saya akan tempat yang saya pijak memiliki kebudayaan yang berbeda dan itu masih di Indonesia.

Musik Tor – Tor Batak

Indonesia Raya

I really enjoy traveling in North Sumatera! Meskipun batal ke Aceh karena dana tidak cukup untuk kesana, akhirnya saya putuskan untuk stay di Medan hingga punya dana balik ke Malang. Tanggal 15 April dapat ajakan dari Mentor Bahasa Inggris saya waktu SMP untuk mengajar Bahasa Inggris di Berau! Horeeeeeeeeeeee!!!. Kelanjutannya? Saya menyetujuinya soalnya akomodasi ditanggung selama program! Cihuyyyyy!!!

Akhirnya saya meninggalkan Sumatera Utara pada 21 April 2013 menuju Bandung. Lengkap sudah petualangan 45 hari saya di Sumatera Utara dan sepertinya petualangan akan berlanjut di Kalimantan Timur! Sayonara Medan and Welcome to Berau Hamka!

BERAU, CITY OF MINING

April 24

Sampai di Bandung, saya pun menginap selama dua hari di tempat Kak Uni, seorang  senior saya di Organisasi Ikatan Kekeluargaan Pelajar/Mahasiswa Indonesia Sulawesi Selatan Cabang Malang (IKAMI SULSEL Cab. Malang).

April 25

24 April 2013 saya pun terbang ke Tarakan via Jakarta siang hari, transit di Balikpapan, dan tiba di Bandara Juwata Tarakan sore hari. Tarakan merupakan sebuah kota Kecil disebuah Pulau yang terpisah dari Pulau Kalimantan. Mayoritas penduduknya adalah suku Bugis – Makassar. Kebetulan keluarga Mr. Syah (mentor Bahasa Inggris saya ketika SMP) banyak yang menetap di Tarakan. Selama dua hari di Tarakan, akhirnya bisa makan enak dan gratis, kepiting, udang, ikan, dan cumi – cumi! Sama sekali tidak pernah makan daging selain daging hewan laut, aduh kolesterol bisa naik!!!

Setelah 2 hari di Tarakan, 27 April 2013, saya bersama Mr. Syah menuju Berau. Total Perjalanan skitar 3 jam dimulai dari Pelabuhan Tengkayu Tarakan menggunakan Speedboat selama sejam dan 2 jam jalur darat menggunakan mobil dari Tanjung Selor ke Tanjung Redeb, Berau. Well, sampai di Berau di sambut dengan panitia yang merupakan mahasiswa Sekolah Tinggi di Berau. Kami pun memulai percakapan dan membahas tentang program keesokan harinya yang akan berjalan selama 10 hari.

Sistem dan Metode yang kami gunakan dalam pengajaran Bahasa Inggris adalah Quantum Learning, dengan memanfaatkan fasilitas yang ada sebagai media pendukung dalam proses pengajaran. Rata – rata peserta adalah Pelajar SMP, SMA dan Mahasiswa Sekolah Tinggi.

Ke Berau sebenarnya bukan dalam rangka Traveling, ada kewajiban mengajar. Namun, yah yang namanya Traveler kalau mumpung di sebuah lokasi, pasti yang dicari itu lokasi wisatanya! Ha ha ha . . . Kalau yang ini nanti aja dibahasnya yah! Masih ngajar neh!

Hampir seluruh mahasiswa di Berau bekerja, ada yang bekerja di Dinas Pemerintahan, Swasta, maupun usaha sendiri atau usaha keluarga. Yang terpenting mereka diwajibkan kerja tidak secara perintah tapi secara moral! Jadwal kuliah seluruh Sekolah Tinggi di Berau pun selalu malam hari. Gedung juga masih numpang. Jadi, pagi hari gedung dipakai untuk proses ajar – mengajar untuk siswa pelajar SMA, malamnya gantian untuk Mahasiswa. Sebagian besar dosen adalah guru di Sekolah Menengah dan Sekolah Menengah Atas.

Anyway, biaya hidup di Berau sangat tinggi! Makan lalapan aja bisa sampe IDR.40.000/porsi! Kalau dengan duit pribadi, ga nahan lah saya! Bisa habis kurang dari seminggu! Ada yang lucu di Berau, style tetap jadi nomer satu di sana. Kata salah seorang murid saya,

“Lebih baik kalauh nasi daripada kalah aksi”


Nah yang kami didik adalah mereka dengan latar belakang pendidikannya berbeda, suku yang beragam, dan pekerjaan yang juga bermacam – macam.

Berau

Bersama Murid – Murid Di Tanjung Redeb

Berau adalah sebuah tempat yang baru dan sangat unik bagi saya, karena percampuran budaya disana sangat majemuk. Saya pun baru tau, kalau suku Asli Berau adalah Berau! Awalnya saya hanya tau kalau suku asli Kalimantan itu hanya Dayak, Tidung, Banjar, dan Melayu disamping suku pendatang yang sudah menetap lama di Kalimantan seperti Tionghoa, Bugis, Makassar, Duri, Toraja, Jawa, Madura, NTT, dll.

Setelah program selesai pada 6 Mei 2013, Mr. Syah pun balik ke Makassar. Saya gimana? Menetap donk He He He . . .  Tujuannya? Cuma ingin mengenal lebih dekat kehidupan sosial masyarakat Berau khususnya di Ibukota Kabupatennya, Tanjung Redeb.

Berau merupakan salah satu kota penghasil tambang Batu Bara terbesar di Indonesia. Setidaknya sekitar 15 kapal tongkang bermuatan 6.000 ton Batu Bara bolak balik setiap hari di Sungai Segah, Tanjung Redeb. Kebetulan salah seorang murid saya pekerjaannya adalah sebagai Nahkoda kapal pengantar Kapten kapal pandu, tugasnya untuk mengantar dan mnjemput Kapten Kapal untuk memandu kapal pengangkut Batu Bara melewati jembatan Sungai Segah. Nah saya diajak ikut untuk melihat prosesnya. Di Sungai Segah terdapat sebuah jembatan, kapal Tongkang tidak bisa lewat kalau tidak dipandu oleh Kapten kapal pandu, karena dikhawatirkan bisa menabrak jembatan penghubung antara Teluk Bayur dan Tanjung Redeb. Lucky me! Thanks Supri!

Batu Bara

Kapal Tongkang Pengangkut 6.000 Ton Batu Bara Melewati Jembatan Sungai Segah

Ada juga yang bernama William, seorang perantau dan pekerja keras di usianya yang masih sangat muda, 19 tahun. Dia menjadi distributor utama se-kota Tanjung Redeb untuk produk minuman berkarbonasi terkenal, minuman energi, dan minuman berenergi. Robin Hood dah pokoknya, datang dan pergi meninggalkan sesuatu secara diam – diam ketika saya dan murid – murid yang lain lagi ngobrol ataupun nongkrong.

Seorang lagi yang bernama Dedi, yang finally bisa menjadi Duta Wisata Kabupaten Berau 2013. We glad for that!

Dan tidak lupa buat Irul yang kerjaannya tiap hari manjat tower setinggi 20 – 30 meter untuk benerin jaringan internet yang ada trouble. Well, kebetulan Irul adalah seorang pemuda suku Bajoe kelahiran Payung – Payung di Pulau Maratua. Nah tau apa artinya? Untuk berkunjung ke Kepulauan Derawan saya tinggal mencocokkan jadwal kapal keluarga Irul yang akan ke Maratua, tempat tinggal pun saya ditawarkan untuk tinggal di Maratua, pulau yang sangat eksotis yang kurang familiar dibanding Derawan, namun bagi saya Maratua adalah the real icon of Berau? Semuanya ada di Maratua. Ubur – ubur tanpa sengat ada, turtle garden ada, barracuda juga ada, penyu tak terhitung, luar biasa keren dah Maratua. Saya tidak banyak cerita tentang Derawan, Sangalaki, maupun Kakaban. Karena Maratua memiliki semuanya, saya rasa hampir semua orang mengetahui apa yang ada di Derawan, Sangalaki, dan Kakaban. Namun, tidak semua orang tau apa yang ada di Maratua. The enchanting Island!

Maratua

Maratua

Kakaban

Kakaban Island

Well kalaupun kawan – kawan mau ke Derawan, jarak yang ditempuh dari Tanjung Redeb sekitar 3 jam perjalanan darat menuju Pelabuhan Tanjung Batu dan 20 menit sailing menggunakan Speedboat ke Pulau Derawan. Disana banyak homestay dan cottage kok.

Derawan

Me In Pulau Gusung Derawan

ANOTHER STORIES IN BERAU

Di Berau terdapat sebuah Masjid Agung Baitul Hikmah. Ketika akan melaksanakan Sholat Jum’at, takmir Masjid mengumumkan saldo kas Masjid hingga  17 Mei 2013, pendengarkanku saat itu samar karena berada di kejauhan, sepertinya menyebutkan angka 932, pikirku tidak mungkin 932 juta. Nah saya memastikan angka tersebut minggu depannya pada 24 Mei. Saya datang lebih awal ke Masjid, dan ketika Takmir Masjid mengumumkan, “Saldo kas Masjid Agung Baitul Hikmah hingga Jum’at hari ini adalah 944.XXX.XXX juta!” Banyak amat!!! Saya penasaran kenapa bisa sebanyak itu, saya pun bertanya kepada salah seorang murid saya setelah Sholat Jum’at. Dan ternyata, diantara 5 menara Masjid yang ada di Masjid, yang paling tinggi digunakan untuk sarang Burung Walet. Burung Walet di menara tersebut menghasilkan liur yang dikategorikan sebagai Grade A karena tidak terdapat bintik hitam pada sarang tersebut! Harga sarang Burung Walet Grade A saat ini berkisar 5 – 7 juta / kg, sedangkan Menara Masjid Baitul Hikmah bisa menghasilkan setidaknya 4 – 5 kg / bulan. Kebayang kan?

24 Mei Masjid

Anyway, karena kegemaran saya terhadap kopi, saya bertemu dengan Bang Mamat, seorang pemilik Kedai Kampus Singkuang. Dari Bang Mamat lah saya berkenalan dengan banyak orang, mulai dari peneliti dari Australia, petinggi TNC, WWF, Dosen di Jawa, hingga Kepala Badan Riset Maritim. Kebetulan di tempat bang Mamat ada Wi-Fi dan tersedia juga jenis kopi kegemaran saya, Arabika Kalosi. Di tempat ini lah saya biasa menghabiskan waktu mencari ide, bertukaran pikiran, dan mencari kawan hingga saya memutuskan untuk meninggalkan Berau 4 Juni 2013.

16 Mei

Saya menginap semalam di tempat Paman di daerah Karangan, Tarakan. Lumayan, bisa nginap dan makan gratis plus ada salam tempelnya (Ini bonus), sebenarnya ga’ nyangka karena umur udah tua gini Ha Ha Ha . . .

I also got surprised from my students on my 24th birthday, May 4th 2013. I wished to travel the world that day, and got my best shake hand from my best friend.

Ultah

My Birthday Party On 4th May 2013. Thanks Guys!

Oh iya, saat di Berau saya dapat kiriman dari seorang kawan di Jakarta, dia kebetulan salah satu admin dari akun @TravelingID. Makasih banyak buku, kartu pos, dan bajunya yah Lucy! Saya janji kalau traveling bakal pake bajunya, eh kesampean! Jadinya kepake di Baduy pada Juni 2013! Belum pernah ketemu ama dia, tapi semoga secepatnya bertemu.

Kartu Pos Tanjung Puting

Postcard Dari @TravelingID Ketika Saya Di Berau

Postcard Message

Postcard Content Dari @TravelingID Thanks yah Lucy!!!

BADUY, URANG KANEKES VILLAGE

Juni 03

Tiba kembali di Jakarta pada 5 Juni 2013. Tiket Pesawat sudah diakomodasiin, biaya makan dan nginap saya selama di Berau hampir dihitung nol kecuali ngopi di Kedai Kampus Singkuang. Uang pun masih ada IDR.400.000. Destinasi selanjutnya Baduy!

Udah janjian ama Titin untuk berkunjung ke Baduy bareng, ketemuan di Bandara Soehat, Jakarta. Malam itu kami nginap di tempat Kak Tere sebelum berangkat dan ketemu dengan Bayu dkk. keesokan harinya di Stasiun Kereta Tanah Abang.

Hari itu kami ber – 6  menggunakan Kereta Api kelas Bisnis dari Stasiun Tanah Abang ke Stasiun Rangkas Bitung sekitar 1.5 Jam, dari Rangkas Bitung menggunakan angkot menuju Terminal Aweh berjarak 5 menit, dari Terminal Aweh kami menuju Ciboleger menggunakan ELF dengan jarak tempuh 1 jam. Setiba di Ciboleger kami melanjutkan trekking ke rumah Kang Lamri yang terletak di Baduy Luar. Hari itu kami menginap di rumah Kang Lamri. Kang Lamri tinggal bersama istrinya dan seorang anak + kami.

Baduy With Titin

Bareng Titin Di Baduy

Keesokan harinya kami hendak menuju Baduy dalam. Ditemani Sarka, kami start trekking menyusuri bukit, hutan, sungai, beberapa pemukiman Baduy luar hingga akhirnya sampai ke Baduy Dalam setelah trekking 3 jam.

Baduy Bridge

Jembatan Pemisah Antara Baduy Dalam Dan Baduy Luar

Kanekes Luar merupakan orang-orang yang telah keluar dari adat dan wilayah Kanekes Dalam. Ada beberapa hal yang menyebabkan dikeluarkannya warga Kanekes Dalam ke Kanekes Luar:

  • Mereka telah melanggar adat masyarakat Kanekes Dalam.
  • Berkeinginan untuk keluar dari Kanekes Dalam
  • Menikah dengan anggota Kanekes Luar

Ciri-ciri masyarakat orang Kanekes Luar

  • Mereka telah mengenal teknologi, seperti peralatan elektronik.
  • Proses pembangunan rumah penduduk Kanekes Luar telah menggunakan alat-alat bantu, seperti gergaji, palu, paku, dll, yang sebelumnya dilarang oleh adat Kanekes Dalam.
  • Menggunakan pakaian adat dengan warna hitam atau biru tua (untuk laki-laki), yang menandakan bahwa mereka tidak suci. Kadang menggunakan pakaian modern seperti kaos oblong dan celana jeans.
  • Menggunakan peralatan rumah tangga modern, seperti kasur, bantal, piring & gelas kaca & plastik.
  • Mereka tinggal di luar wilayah Kanekes Dalam.
  • Tak sedikit diantara mereka yang telah terpengaruh ajaran salah satu dari agama yang diakui pemerintah Indonesia

Sumber: Wikipedia

Setelah beberapa jam di Baduy Dalam, kami bergegas balik ke Rumah Kang Lamri sebelum gelap. Kami menginap lagi semalam di tempat Kang Lamri. Keesokan harinya kami balik ke Jakarta dengan rute yang sama yang kami lalui 2 hari sebelumnya saat datang berkunjung. Sebelum meninggalkan rumah Kang Lamri, kami memberikan tanda terima kasih berupa uang dan sembako untuk kebutuhan sehari – hari. Pada umumnya, masyarakat Baduy tidak memasang tarif menginap, jadi kebanyakan pengunjung membawa sembako dan memberikan uang tanda terima kasih sebelum meninggalkan rumah Kang Lamri ataupun rumah penduduk Baduy tempat nginap lainnya.

Baduyy

My Pic In Baduy. Nah, Baju Yang Saya Pakai Hadiah Dari @TravelingID!

Sebenarnya ceritanya panjang neh, ini aja udah 16 lembar. Semoga bisa jadi buku, Amin!

9 Juni Baduyy

RELAXASING

Sesampainya di Jakarta kami menginap di Tempat Laura. Kenal Laura dari Komunitas Couchsurfing. Kebetulan Laura pernah study di Russia selama 6 tahun, jadi dah cerita malam itu tentang pengalamannya kuliah di Russia hingga pembahasan yang masuk ke arah keilmuan dan pengetahuan umum, macam cerdas cermat gitu! Ha Ha Ha . . .

Keesokan harinya Titin harus balik ke Medan dan saya pun masih nginap semalam di tempat Laura. Eh, ternyata Laura punya Kopi Amungme! Kopi premium dari Pegunungan Papua! Langsung tancap gas dah saya menyeduh tanpa basa basi, Thanks Laura!

Amungme

Kopi Amungme . . . Thanks Laura!

Tanggal 11 Juni 2013 Laura harus ke Makassar karena ada tugas selama 2 bulan. Nah saya pun harus hijrah ke Bandung mencari tumpangan baru. Hari itu saya bareng Laura ke Bandara, dan setelah Laura check in, saya pun menggunakan Travel dari Bandara dengan tujuan Bandung.

Saya stay di Bandung selama 9 hari, mengunjungi beberapa tempat di pusat kota. And finally ketemu ama Kak Irna (Couhsurfing Medan) di Bandung, malah ketemunya di sana Ha Ha Ha . . . Saya juga dikenalin ama kawan – kawan Couchsurfing Bandung, diajak bareng berkeliling kota dan mengunjungi museum di Gedung Merdeka berlokasi di Jalan Asia – Afrika Bandung.

WELCOME HOME HAMKA

Niat awal saya akan balik ke Berau, Cuma dana sudah kosong! Akhirnya dalam waktu 9 hari saya mencari tempat cetak Postcard di Bandung. Tujuannya untuk cari dana buat beli tiket kereta balik ke Malang! Akhirnya bisa menjual sekitar 100 biji kartu pos seharga IDR 3.000/Postcard via online. Dana sudah terkumpul sekitar IDR. 300.000 dan saya pun membeli tiket kereta untuk keberangkatan 19 Juni 2013.

20 Juni

Akhirnya, setelah 111 hari petualangan di 3 pulau saya pun tiba di Malang 20 Juni 2013. Matahari pagi itu sinarnya mantap, langit cerah dan sempat saya abadikan dalam jepretan kamera kesayanganku. Lovely experiences!

20 Juni Malang

Tweet Setelah sampai Di Malang

Sunrise Kereta

Sunrise Dari Balik Gunung Kawi, Diambil Dari Kereta Malabar 1 Jam Sebelum Sampai Di Kota Malang

Saya ingin berterima kasih kepada seluruh kawan – kawan yang banyak membantu sebelum dan saat perjalanan. Thanks buat kawan – kawan Backpacker Medan yang udah mau memberi tumpangan selama 45 hari di Medan. Buat Titin, teman seperjalanan di Medan dan Baduy, you are really great, makasih sudah banyak membantu selama di Medan. Next trip will be great agian. Thanks Kacamatanya yah Kak Septi. Buat sahabat – sahabat di Berau, makasih untuk sharing. Buat Kak Laura, Kak Mega, Kak Uni, makasih banyak buat tumpangannya selama di Jakarta dan Bandung. Kak Irna Makasih gelangnya yah. Makasih juga buat seluruh kawan – kawan yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu, you are great, I am really glad to meet you all and traveling with you all. I’ll see you all in the border next time.

Traveling bagi saya untuk lebih mengenali sejarah dan budaya Indonesia. Karena Indonesia adalah bangsa yang memiliki sejarah yang sangat panjang dan terbentuk dari keberagaman budaya. Melalui traveling, saya dapat mengenali entitas dari masing – masing suku yang ada di Indonesia. Yang saya dapatkan adalah lebih dari sekedar travel dan pengetahuan. Saya bisa lebih mengenal Indonesia, berkenalan dengan banyak kawan dari berbagai latar belakang, dan yang terpenting lebih bisa menghargai jasa para pejuang kemerdekaan Indonesia. Thanks! Karena kalian saya bisa menikmati indahnya Indonesia! Yuk, Menjelajahi Indonesia melalui jalur pertemanan!

“The world is a book and those who do not travel read only one page.” – Saint Augustine

Di Indonesia sangat banyak petualang dengan berbagai jenis traveling style. Salah satu yang paling seru adalah petualangan gokil Gofar (@pergijauh) dan Nila Tanzil (@NilaTanzil) traveling nekad ke pulau komodo dari Jakarta tanpa membawa uang, hanya koneksi internet 180Gb! Keren banget! Semoga kedepannya bisa seperti mereka. Berencana buat social media khusus hitchhike, jadi bisa menggunakan bantuan smartphone kayak mereka #NekadTraveler

Kalau mau tau ceritanya, bisa cek disini telkomsel.com/nekadtraveler dan nonton videonya disini tsel.me/TVCNekadTraveler

Clip to Evernote

About The Author

Indonesian youth with lots of passion to travel around the world. Love mountains and fall in love with beautiful seas. Share their journeys and stories with words, picture, and action. Meet them in the border, they'll greet you there. About Us And About.Me

Number of Entries : 27

Leave a Comment

© 2013 All Right Reserved Travenesia

Scroll to top